"Aku paling
benci dibohongi, dalam bentuk apapun jenis kebohongan."
***
Aku masih
terpaku melihat jasadnya yang kini telah tertanam rapi. Taburan bunga-bunga di
atas kuburnya tak sanggup mengobati segala luka dan kehilangan yang kurasa.
Wangi semerbaknya tak mampu tertembus indra penciumanku yang tlah penuh dengan
ingus tangisku. Aku masih meneteskan air mata. Kakak perempuanku tak kalah
kalutnya denganku. Bahkan, dia berulang-ulang pingsan. Aku masih lega karena
aku terlahir sebagai lelaki, buka perempuan yang mudah pingsan. Tapi jika itu bisa membuatku tenang,
aku memilih menjadi perempuan agar bisa pingsan menerima kenyataan dan terdiam
dalam kesunyian mencari keadilan Tuhan.